Selasa, 06 Oktober 2015

Nasi Mindhi Cibubur

Gak ada yang lebih nyenengin kalo bisa nemu tempat makan baru dengan makanan yang sesuai dugaan. Apalagi kalo tempat makannya gak jauh dari rumah sendiri dimana kita gak perlu macet-macet buat menuju tempat tersebut.
Posisi warung ini ada di pasar jaya cibubur, lantai 1 seinget gw. Nahh cuma buat patokannya nih gw bingung..
Dan inilah yg terjadi siang ini sama gw.. Mencoba tempat makan baru deket ruma.
Dapet infonya gak sengaja dari fa**b**k disitu info yang komen bilang klo makanan di warung ini cepet bgt abisnya, dan warung ini juga melayani delivery.
Berhubung hari ini gw laper, udah waktu makan siang, cuaca panas, yang bikin mager keluar rumah. Isengnya gw chat nomer yang tertera di foto, via wh**sapp.
Chat pertama gw yaitu "nasi mindhinya masi ada?" Selanjutnya respon penjual cepet banget. Ujungnya gw tanya apakah bisa delivery? Klopun enggak gw berniat make jasa go**k buat anter.
Ahh.. Kalo dipikir jaman skrg orang dibikin gampang bgt ya.. Pantes makin pada males (ngomong depan kaca).
Gak sampe 15 menit, makanan gw dateng.
Di warung ini tersedia 3 menu. Yaitu menu nasi mindhi hemat ayam,menu nasi mindhi ayam besar, dan nasi mindhi iga.
Percobaan pertama ini gw pesen menu ayam besar sama iga.
Gw belum tau bener soal nasi mindhi ini sebenernya apa.. Tp ketika makanan sampe di tangan gw dan dicoba. Nasi ini kaya nasi tomat berempah dan berminyak. Kebetulan gw coba yang pake iga.. Dan iganya warbiyasaaaa.. Melted di mulut, lemak-lemak penggoda iman, keempukan daging nya juara nyampur sama si nasi.
Paketan yang dijual terdiri dari nasi mindhi + iga/ ayam + kerupuk + sambal acar (yang seger banget) + air mineral gelas + sendok garpu.
Worth it banget menurut gw.. Apalagi buat catering acara-acara kalian.
Kisaran harganya dari 20 ribuan sampe 36rb.
Semoga sih kualitas dan harganya gak mengalami perubahan. Oia gw sih rekomen buat delivery, karna buat makan di tempat ramean gitu kurang memadai. Tapi gak tau kan yaaa kalo next yang punya warung memperluas atau pindah ke tempat yang lebih kece ☺☺☺

no telp warung nya ada di baliho

Jumat, 25 September 2015

Kedai Kita Bogor

siapa yang belum pernah makan di Kedai Kita... ahh bisa-bisa dibilang gak kekinian nih. restoran ini awalnya ada di bogor. dari satu cabang terus sekarang jadi 2 cabang, yang di daerah taman kencana sama yang sebrang momomilk barn. and then... cabangnya diperluar sampe jakarta, tepatnya di meruya.

dan kebetulan saya udah pernah nyoba makan yang di cabang meruya, sama yang sebrang momomilk. dan rasa serta porsinya... hmmm BEDA. kecewa sih, yang di meruya porsinya lebih sedikit dan rasanya agak hambar. tapi buat rekomendasi kalian kalo lagi main di bogor, coba deh pesen mie hotplate lidah sapi, ifu mie, dan yang paling juara PIZZA BAKARnya..

iyalah harus coba pizza bakar, karna itu menu yang katanya bikin resto ini ngetop. tapi 3 menu utama itu jangan dipesen buat sendirian yah. karna lumayan banyak. buat lebih gampangnya, nih saya kasih alamat lengkap yang di deket momomilk. saya prefer rekomendasi yang disini karna secara lokasi lebih luas, parkirannya mudah, lebih bersih.

KEDAI KITA : Jl. Pangrango No.21, Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat 16128

pizza bbq


Ramen Halal . Part 1

akhir-akhir ini lagi keranjingan banget sama yang namanya ramen. tapi berhubung makanan khas jepang ini biasanya memakai bahan-bahan racikan yang di agama saya dilarang, jadilah berburu makanan ini lebih keras. dan akhirnya saya dapet beberapa restoran yang memampangkan tulisan NO PORK AND NO LARD di depan restonya.. dan berikut adalah restoran ramen yang halal dan maknyuss pastinya.

1. HAKATA IKKOUSHA

saya makan ramen ini di senayan city, pas bulan ramadhan. maklum lah kalo buka puasa di mal pasti semua penuh.. nah kebetulan pas lewat, resto ini juga waiting list dengan terlihat ada beberapa orang yang bediri dan duduk di bangku luar resto. ngintip dikit dan ngeliat di bagian nyatet waiting list ada tulisan yang cukup gede NO PORK AND NO LARD. mendadak melipir lah langsung ngeliat harus nunggu berapa orang. nunggu 2 pasangan lagi buat yang seat 2 orang (waktu itu kebetulan lagi berdua jalannya). gak lama dipanggil kita masuk buat share meja. mesen ramen ayam tam-tam dan ramen ayam kari. abis itu tergoda buat nambah gyoza ayam udang. minumnya ocha hangat dan dingin yang bisa refill.. maklum lah buka puasa bawaannya haus.

dan rasanya enyakkk.... tapi prefer buat kuah lebih suka yang curry. gyoza nya hangat kreyes-kreyes. by the way.. klo kalian masuk ke web http://ikkousha.co.id/menu/ disitu masih tertulis ada menu babinya. entah ini memang beberapa store menerapkan sistem no pork and lard saja atau gimana. tapi minimal buat muslim yang mau makan agak sedikit terminimalisir kekuatirannya kali yah dengan adanya tulisan itu. harga ramen ini per mangkok rata-rata di atas 50 ribu.

ramen ayam kari dan gyoza udang ayam

rasa kari nya seger banget

2. NANAMI RAMEN

nah kalo ramen yang ini versi harga di bawah 50 ribu. cukup enak, dan pilihan rasanya juga cukup variatif. letaknya ada di bendungan hilir, tepatnya di teras benhil lt. 1 sebrang holycow. disini saya kembali nyoba yg rasa kari.. entah kenapa suka banget. dan di resto ini juga tertulis dengan besar kalo ramennya halal, tanpa babi dan lemaknya. waktu dateng kesini kondisi resto gak terlalu rame, malah bisa dihitung pengunjungnya, sempet kuatir jangan-jangan gak enak. tapi terjawab pas makanan pesenan saya datang. enak kok, porsinya cukup banyak. isiannya juga asal. tapi memang taste nya agak beda sama hakata. harganya juga jauh cuy,,,

buat rasa kari yang saya pesan memang mirip rasa kari ayamnya ind***e tapi dengan kuah yang lebih kental. cuma sempet makan ramennya, karna dateng di waktu yang udah lumayan malem. minumnya ocha dingin dan bisa refill.

oke sementara itu dulu yang bisa saya share.. masih ada beberapa resto ramen 'yang katanya' halal tapi belum saya pastikan dan coba. tapi next kalo udah terbuktikan kebenarannya pasti saya share lagi.

Senin, 17 Agustus 2015

HUTAN KENANGA

Alkisah hiduplah seorang pemuda miskin yang bekerja mencari kayu bakar di hutan untuk dijual, Brata nama pemuda itu. Pekerjaannya ini menuntutnya harus bekerja keras demi mendapat makanan sehari-hari. Suatu ketika dalam pencarian mencari kayu bakar di hutan yang dianggapnya sedang kurang menghasilkan, dirinya merasa lelah. Apalagi sudah 2 hari dirinya belum makan, maka semakin lemaslah ia. Kemudian disaat ia menyenderkan badannya ke sebuah batang pohon yang cukup besar dan tua, badannya terperosok ke dalam. Karena kaget segera ia berusaha mengangkat badannya, dan menemukan sebutir telur di dalam pohon tersebut. Terbit air liurnya melihat telur tersebut, terbayang dadar telur ataupun telur rebus di kepalanya bila ia mengambil telur tersebut. Lalu dengan perlahan diambilnya telur tersebut, tapi betapa kagetnya ketika Brata berbalik sudah ada ular dengan mata yang penuh amarah berdiri di depannya. Sang ular menatap tajam ke arah Brata seraya berkata, “siapa kau? Berani mengganggu kediamanku dan berusaha mengambil telurku?!”. Dengan penuh ketakutan Brata berkata, “aku..aku..sangat lapar. Maafkan aku yang lancang karna telah mengambil telurmu ibu ular..”. “tidak bisa!!”, teriak ular tesebut. “tidak ada yang berani melawan Nyai Kenanga, aku tidak akan mengampunimu. Bersiaplah kau akan kumangsa!”. “jangan!!! Ampun....aku akan menuruti keinginanmu asalkan kau tidak membunuhku” Brata berkata penuh ketakutan. Nyai Kenanga lalu merasa iba, “baiklah, aku akan mengampunimu asalkan kau mau menjadi suamiku” ujar Nyai Kenanga. Dengan pasrah Brata memenuhi syarat tersebut dan tinggallah ia di hutan.

Beberapa tahun kemudian, Nyai Kenanga dan Brata melahirkan anak bernama Meranti. Meranti tumbuh menjadi gadis yang baik hati, ia akrab dengan para penghuni hutan. Walaupun tubuh Meranti terdapat sisik di beberapa bagian tubuhnya, ia tidak berkecil hati. Suatu ketika adalah seorang Pangeran Muda yang datang ke hutan, pangeran ini bernama Sanjaya. Pangeran Sanjaya senang berburu binatang di hutan, dan suatu saat di hari perburuan Pangeran Sanjaya dirinya melihat ular besar yang sedang merayap di batang pohon. Pangeran Sanjaya bersiap membidik, tanpa disadarinya di kejauhan tampak Meranti yang memperhatikannya. Ular besar tersebut adalah Nyai Kenanga yang sedang ingin beristirahat. Saat busur panah siap melesat, Meranti segera berlari ke arah ibunya dan pundaknya terluka terkena anak panah. Pangeran Sanjaya terkejut ketika anak panahnya mengenai seorang gadis, segera ia hampiri gadis tersebut dan melupakan ular besar yang telah kabur. Meranti merintih kesakitan, tapi sakitnya dengan cepat terlupakan karena terpesona dengan ketampanan sang Pangeran. Pangeran yang merasa bersalah menawarkan diri untuk membawanya ke kota untuk mengobatinya tapi ditolak oleh Meranti. Meranti hanya ingin pulang ke rumahnya, sesampai mereka berdua di rumah Pangeran kaget melihat sang ular ada di rumah tersebut dan Pangeran lebih kaget lagi ketika mengetahui bahwa ular tersebut adalah ibu Meranti.

Beberapa hari kemudian Pangeran sering mengunjungi Meranti untuk memastikan keadaannya. Lain lagi di Istana, Raja Durga ayahanda dari Pangeran Sanjaya merasa bingung dengan putranya yang tiap hari pergi ke hutan dan pulang tanpa hasil buruan. Diam-diam diikutinya sang putra ke dalam hutan, dan betapa kagetnya ketika ia tahu putranya berteman dengan wanita siluman ular. Sesampainya Pangeran Sanjaya di istana, Raja Durga marah besar. Ia melarang putranya datang ke hutan, tapi apa mau dikata Pangeran Sanjaya terlanjur jatuh hati dengan kebaikan hati Meranti. Tidak terima dengan perkataan anaknya, Raja Durga diam-diam berencana menbunuh wanita siluman itu.


Keesokan harinya Raja mendatangi kediaman Meranti, dlihatnya Meranti sedang sibuk memasak di dapur. Raja Durga mendekati perlahan dengan pisau di genggamannya. Sialnya sebelum Raja berhasil menusuk Meranti, dirinya sudah terlebih dahulu dililit oleh Nyai Kenanga dan mati lemas karenanya. Dan akhirnya dari penjelasan Nyai Kenanga, Pangeran Sanjaya pun bisa memahami dan mereka berdua yaitu Pangeran Sanjaya serta Meranti menikah dan hidup bahagia meneruskan tahta sang Raja di istana.

AYO LOMPAT!

“Lompat!! Ayo lompat sekarang!!... jangan ragu, ada kami disini.. tidak akan sakit”, suara-suara itu terus terngiang di kepalaku, ah bukan tapi di kupingku, tidak tidak.. suara itu terus menerus saling bersahutan di sekelilingku.

Kulihat ke bawah, ada jarak sekitar 15 meter sebelum akhirnya aku bias mencapai sana. Aneh. Tidak ada perasaan ngeri sedikitpun yang menghampiri. Ujung sepatuku sudah melewati tembok pembatas sekitar 8 senti. Takut, ngeri, perasaan macam iyu tidk dapat aku rasakan. Tapi aku merasakan telapak tanganku basah. Yang entah mengapa justru menambah keinginanku untuk segera melompat.

Seperti ada kedamaian disana..

Seperti ada orang-orang yang sangat ingin segera kutemui..

Kubisikkan kata pelan, kuhitung… “3” sambil kurentangkan kedua tanganku seperti mau terbang. “2” kumajukan sedikit demi sedikit ujung sepatuku. “1” kupejamkan mataku sambil kunikmati semilie angina yang membelai pipi ini. “0”


Mataku terbuka…
Segera kubangunkan badanku dan melihat sekeliling. Kanan. Kiri. Banyak orang, ada laki dan perempuan. Mereka saling berteriak sesuatu yang masih belum dapat kutangkap. Tapi kulihat mereka menatap ke atas. Saat kuikut melihatnya, ada sekitar 2, atau 3 orang di atas atap sebuah gedung. Dan mereka seperti bersiap ingin melompat.

Aku pun terperangah, dan reflek mengatakan “awasss… jangan melompat!!”

“lompat saja…”

“ayo lompat…”

“kami menunggumu disini…”

“Cepat lompat…”

Dan sekali lagi aku terkaget dan segera menatap orang-orang disekelilingku, muka mereka… terlihat lapar dan beringas.

Bunyi berdebum mengalihkan aku, sepertinya sudah ada yang melompat. Dan serentak orang-orang ini berebut menghampiri.. dengan kondisi badan yang ternyata TIDAK UTUH.

“aku dapat kakinya!”

“aku pemilik tangannya!”

Sahutan mereka terdengar ngeri di telingaku, dan tidak lama di kejauhan ada seseorang yang berdiri dengan tubuh yang lengkap lali berkata “akhirnya aku bias pergi dari neraka ini”, dan menghilanglah iya.

Sesaat aku bingung, tapi kulihat di belakangku muncul bayangan-bayangin menyedihkan yang kondisinya jauh lebih parah dari yang berlarian kemudian kutatap tubuhku. TANPA TANGAN.

Tersadar, itulah cara agar aku terbebas dari sini.
Ruang penyesalan.
Kutengadahkan kepalaku melihat sisa orang di atas, dan kukatakan dengan lantang, “AYO LOMPAT!!”

GEPENG

Aku memanggilnya gepeng, itu bukan nama asli hanya sebutanku. Dia teman yang sering menemaniku tidur dari kecil. Kata ibuku gepeng ini tadinya gemuk, tapi seiring waktu iapun akhirnya mengecil dan tubuhnya pun menjadi kurus alias gepeng. Tapi tau tidak, seminggu lalu gepeng menghilang tanpa jejak. Kucek ke kamar, dapur, ruang keluarga, gepeng tidak ada. Ku berlari ke arah taman belakang. Biasanya gepeng suka bersantai disana dekat tempat jemuran. Nihil. Langkahku gontai memasuki rumah.

Malam harinya kamarku terasa sepi tanpa gepeng. Biasanya sebelum tidur aku suka bercerita tentang apa saja yang kualami seharian tadi. Dan gepang akan setia mendengarkan tanpa membantah di sebelahku. Kupaksakan mata ini terpejam. Berharap besok gepeng akan kembali menyapaku disaat aku terbangun.

Semburat sinar pagi menggelitik wajahku. Dan otomatis akupun terbangun dari tidur. Menggeliat, ku tengok sebelah kananku. Kosong. Gepeng tetap tak ada. Dengan langkah yang terseret, kupaksa keluar kamar dan memasuki kamar mandi.

Sehabis sarapan aku berniat berkeliling sekitar rumah untuk mencari keberadan gepeng. Walau mungkin para tetangga akan sulit mengenali temanku ini. Dua tetangga kiri kanan ku sudah kutanyakan, tapi mereka malah bingung. Karna memang jarang sekali gepeng keluar rumah. Tapi niatku belum surut, aku harus menemukan gepeng!

Tak terasa langkahku sudah mencapai ujung jalan, kulihat di lapangan banyak anak-anak bermain bola. Mungkinkah salah satu dari mereka tahu akan keberadaan gepeng bila kutanyakan? Kutatap mereka lama. Tanpa sengaja, ada bola menggelinding ke dekat kakiku. Seorang bocah menghampiri untuk mengambilnya.

“permisi kak.. mau ambil bola”, kuanggukan kepalaku. Sesaat aku memanggil lagi bocah yang sedang menuju ke teman-temannya kembali. “hei dik..!”, teriakku. Bocah itu kembali mendatangiku. Segera kutanyakan perihal gepeng kepadany. “sebentar yah” kata anak itu dan segera berlari menghampiri teman-temannya yang lain. Terlihat mereka saling berbicara satu sama lain. Tak lama bocah si pengambil bola kembali menghampiriku.

“kemarin teman saya ada yang melihat, gepeng bersama seekor anjing pergi menuju komplek belakang. Lalu ada seorang pemulung mendekati mereka. Habis itu temen saya gak tau lagi kak.” ahh ketakutan mulai menyergapku. Kuucapkan terimakasih lalu segera berlari ke arah komplek belakang, tidak lupa kutanyakan ciri-ciri si pemulung.

Komplek belakang terkenal memang sepi, jarang warganya yang keluar untuk berbaur. Kucari pemulung bermodal ciri-ciri yang disebutkan anak-anak tadi. Sejam. Dua jam. Tidak terlihat pemulung tersebut ataupun pemulung yang lain. Pupus sudah harapan menemukan gepeng.
3 hari sudah gepeng tidak menemani ku tidur. Hampa.

Di hari kelima, sepulang sekolah ibu menyambutku di teras dengan senyuman. “cepat ganti baju dan menuju ruang makan, ibu punya sesuatu untuk menghilangkan kesedihan mu beberapa hari ini”, katanya. Kubilang saja kalau itu hanya sesuatu untuk menggantikan posisi gepeng, ibu hanya melakukan hal yang percuma. “ini lain”, sahut ibuku lagi.


Kupatuhi perintah ibu. Selesai mengganti pakaian aku duduk di meja makan. Tiba-tiba ada sesuatu menutup matanya. Suaranya menggema di telingaku “sekarang coba lihat ke belakang”. Kutengokkan kepalaku dengan sedikit malas, tapi senyumku merekah dengan segera ketika kulihat gepeng duduk di bangku belakangku. Kupeluk dia, kuhirup aroma tubuhnya yang khas. Tidak berubah. Akhirnya.. gepeng kembali. Yah, gulingku kembali. Ibu menemukannya saat seorang pemulung membawanya. Gepeng menghilang saat ibu sedang menjemurnya di teras depan. Mungkin saat itulah seekor anjing membawanya. Tidak penting sudah, yang pasti nanti malam gepeng akan menemani ku tidur kembali.

Jumat, 24 Oktober 2014

Besok SAYA MATI

“besok saya mati”
Ahh lagi-lagi si bapak tua meracau hal yang sama lagi… 
“kemarin juga bapak bilang begitu, tapi buktinya sekarang masih segar bugar kan?”, kataku sembari menghabiskan sisa ketoprak di piring. Si bapak hanya tersenyum, “bukankah kematian memang selalu mengintai kita nak?”. Getir, aku tidak ingin membahasnya.

********

Yahh.. si bapak tua itu tukang sapu dekat kantorku, aku tak sengaja berkenalan dengannya saat jam makan kantor. Ketika sedang makan, si bapak duduk disampingku dengan wajah kelelahan dan tiba-tiba berkata, “besok saya mati..” sontak saja aku terbatuk dan melontarkan makanan di mulutku. “bapak mau bunuh diri?!” kataku. “tidak” gelengnya. “memang bapak itu tuhan, hingga tau ajal bapak sendiri..” lanjutku dengan nada bicara yang meninggi. “ahh.. apalagi itu, bukan lah.. saya bukan tuhan” jawab si bapak. “hanya saja, setiap malam setiap hendak memejamkan mata perasaan saya mengatakan seperti itu” lanjut si bapak.

Dua batang rokok sudah habis dihisapnya.. kami berdua terdiam cukup lama. Piring kosong bekas makanku sudah diangkat. Aku belum tahu nama bapak disampingku, dan belum berniat berkenalan juga. Bukan sombong, hanya saja aku takut tertular cara berpikirnya yang aneh.. iya aneh menurutku.. haha.

“jadi adik ini bekerja di kantor yang mana?” tiba-tiba si bapak membuka pembicaraan kembali. “yang itu..” tunjukku ke gedung dengan ujung meruncing di belakang kami. “oooo… sudah lama disana?” tanyanya lagi. “dua bulan lagi saya genap setahun kerja disana” sahutku cepat. “betah memang?” si bapak bertanya lagi. “yaa dibetah-betahin aja lah.. namanya juga mengais rejeki” duhh saya mulai merasa malas meladeni pertanyaan bapak ini, kataku dalam hati. Dengan alasan sibuk kutinggalkan saja dirinya.

******

Dari seberang jalan kulihat si bapak yang kemarin, di tangannya masih tergemgam sapu lidi bergagang panjang.  Segera kuhampiri dirinya sembari menawarkan ajakan makan siang, “kalau sudah selesai kerja, ikut makan dengan saya pak!” si bapak hanya tersenyum, tidak mengiyakan ataupun menolak.

Kali ini dua mangkok soto plus nasi sudah ada di meja ku, masi mengepul panas. Soto tidak langsung kusantap, menunggu si bapak mendatangiku yang entah kenapa sangat ingin kuajak bicara hari ini. Sayang… sampai waktu istirahatku habis dan soto mendingin, si bapak tidak tampak batang hidungnya.

******

“nama saya suratno…”, lagi-lagi kehadirannya di sebelahku yang mendadak mengagetkanku. “kemarin bapak kemana? Saya ingin traktir makan malah gak dating-datang” ujarku tanpa mempedulikan omongannya. Dengan terkekeh, bapak itu berkata “kamu baik sekali nak.. pasti akan menyenangkan kalau kita bias makan enak di hari terakhir hidup kita. Pasti saya juga akan makan sepuas-puasnya, tapi itupun kalau punya uang yah.. hahahaha” mendengar jawabannya aku hanya bias menggaruk kepala yang sebenernya tidak gatal. “mulai meracau gila lagi tampaknya bapak ini” pikirku. “saya permisi, mau menghantarkan pesanan makanan para karyawan pak!” sahutku padanya dengan terburu. “yayaya.. silahkan, senang bias berkenalan denganmu nak. Jangan sedih walau Cuma jadi bawahan, di mata Tuhan kita semua sama.. hanya amal ibadah yang membedakan” kata pak suratno seraya menepuk pundakku.

*******

Beberapa hari ini, waktu istirahatku ditemani petuah-petuah dan pembicaraan yang berujung pada kematian. Bapak Suratno, perantau dari jawa yang mengais rejeki di ibukota. Berawal dari kuli bangunan dan berakhir menjadi tukang sapu jalanan. Teringat anaknya saat melihatku pertama kali, dan selalu terbayang akan kematian dirinya setiap malam. Takut. Mati. Sendiri. Tiga kata yang aku tangkap darinya dari beberapa hari ini. Dia ingin ada seseorang disampingnya bila besok dia mati.
“pulang saja pak ke kampung” saranku suatu ketika. “sanak saudara masih ada? Istri? Anak?” tanyaku bertubi. “mungkin ada.. mungkin juga tidak” jawabnya sembari menerawang ke langit. “paling tidak, bila benar besok saya mati, saya senang sudah bias bertemu nak biru disini” dan percakapan itu yang mengakhiri pertemuanku siang ini dengannya. Pamit mundur, waktu istirahat habis kukatakan padanya. Dan ketika aku berlari menyebrang, aku mendengar pak suratno berteriak ke arahku “besok….$#&*@#%&*” tertelan deru kendaraan, aku tak mendengar jelas. paling dia hanya ingin mengatakan kalau besok dia mau mati…

*******

Sendu. Kali ini kulihat raut muka Pak Suratno tak seceria biasanya, karna penasaran kudekati dirinya dan menyapa, “bapak sehat? Sudah makan?” dia hanya menggeleng. “jangan bilang kalau besok bapak mau mati…” tanyaku tanpa curiga. Matanya hanya menatap ku nanar, lalu kulihat ada air yang menggenang di pelupuknya. “bapak sedang ada masalah?” kali ini pertanyaanku semakin menyelidik. Mulut Pak Suratno tetap terkatup rapat, bahkan dia malah pergi meninggalkanku sendiri. “aneh, tidak seperti biasanya…” gumamku.

Pesanan para karyawan sudah di tangan, tapi keanehan yang disebabkan Pak Suratno terus mengahantuiku. Sambil terus berpikir, aku menyebrang jalan dengan lalai tanpa melihat kanan kiri lagi. Dan dari kejauhan sebuah mobil bak terbuka melaju kencang, terkaget melihat diriku dan kemudian oleng..lalu  GELAP.

Samar kudengar orang berteriak memanggil pertolongan, banyak orang berkerumun disekitarku. Gelas jus plastic sudah tumpah di sampingku, tapi aku merasa lunglai tak dapat bergerak. Entah waktu yang terasa cepat berlalu, rasanya pandangan mata ini semakin gelap. Diantara sisa sinar yang kulihat, ada Pak Suratno di ujung jalan, di belakang kerumunan orang menatapku masih dengan ekspresi menyedihkan. Dan akhirnya sayup kuingat kata-katanya kemarin sebelum akhirnya pandangan ini benar-benar menjadi gelap, “BESOK KAMU MATI”.


--------------TAMAT-----------------