Minggu, 01 Januari 2017

1 Januari (The last)

Badanku rasanya gerah sekali, sampai aku terbangun. Kulihat jam di handphone, ternyata masih pukul 3 pagi. Kubalikkan badanku, ada dia yang sedang tertidur pulas. Aku menatap wajahnya, kurasakan hembusan nafasnya di wajahku. Dia tidak mendengkur, sepertinya dia berusaha menahan agar tidak mengganggu tidurku. Gggrrooookkk. Oke, aku terlalu cepat berkesimpulan, barusan dia ngorok.

Aku membelai pipinya dengan telunjuk tangan kiriku, memainkan hidungnya, lalu membelai bibirnya. Banyak hal yang berkecamuk di otakku. Pikiran bahwa perlahan dia akan bosan​ dan meninggalkanku. Pikiran dia akan kembali cuek seperti sebelumnya. Pikiran bahwa dia akan menemukan orang lain.

Aku takut, sudah banyak bukti ketika pasangan jarang bersama dan ada lawan jenis yang lebih sering bersama salah satunya, nantinya kenyamanan serta kehadiran mereka akan dianggap sebagai perhatian yang tidak bisa didapat dari pasangan asli mereka. Jalaran soko kulino. Bisa karena biasa. Sungguh aku takut.

Sepertinya tanpa sadar aku kembali tertidur, dan terbangun ketika cahaya matahari menyelusup diantara sela gorden yang langsung mengenai tepat mataku. "Pagi.. aku gak ngorok kan?", Rupanya dia kembali memperhatikan aku tidur. Tapi dia pun tidak tahu kalau aku pun melakukan hal yang sama semalam.

"Cari sarapan yuk, nanti kesiangan. Habis dzuhur kan kita harus ke bandara", ujarku. Dia tidak menjawab, malah memelukku erat, bahkan sampai aku tidak bisa bergerak. "Kamu tinggal disini aja, aku nanti sendirian lagi, kesepian. Kalau ada kamu, aku kayak punya semangat hidup. Aku langsung punya tujuan mau ngapain setiap harinya", dia bicara sambil tetap memelukku. Terserah dia mau bicara apa, tapi aku sudah berjanji tidak akan ada tangisan hari ini. Aku tidak mau menganggap ini semua sebuah perpisahan, aku harus yakin kita berdua akan berjumpa lagi entah kapan.

Aku merasakan keningku diciumnya, kucoba dengakkan kepalaku, ada sisa air mati yang mengalir dipipinya. Dia menangis. Aku mengusapnya, "jangan nangis, nanti aku ikut sedih.. aku kan cuma balik buat kerja, cari uang lagi biar bisa nengokin kamu. Kamu juga cari kerja, biar punya uang buat nengokin aku". Entah kekuatan darimana yang membuatku bisa bicara tanpa suara serak. "Kamu enggak usah kerja, aku aja yang kerja. Aku janji bakal usaha terus buat bahagiain kamu, nyenengin kamu", dia kembali bicara.

"Kawan-kawanmu tidak pulang?", aku mencoba mencari pembicaraan lain. "Paling tidur di rumah sebelah", katanya. Rumah sebelah yang dia maksud adalah rumah tempat dia menitipkan bahan makanan di kulkas tetangganya. "Mereka udah gede, biarin aja. Aku mau manja-manjaan sama kamu aja seharian", ucapnya. "Tapi aku lapar", aku bilang padanya. Sesungguhnya aku takut kalau ada orang lain yang belum kukenal datang dan melihat kami hanya berdua di rumah ini. Sekalipun kami tidak melakukan hal-hal yang aneh, aku merasa fitnah apapun bisa saja merusak karirnya disini yang notabene adalah anak rantau.

"Ya sudah kalau kamu sudah bosan di kamar sama aku", begitu katanya lalu bangun dan keluar kamar. Sikapku telah melukai hatinya lagi. Kadang aku bingung bagaimana mengungkapkan perasaanku. Iri sekali aku pada orang-orang yang dengan mudah mengungkapkan apa yang diinginkannya tanpa kuatir omongan orang pada akhirnya.

Aku pergi ke dapur untuk melihat ada bahan makanan apa yang tersisa untuk sarapan. Tidak ada lauk. Cuma ada nasi, dan cabe rawit. Kuputuskan untuk membuat nasi goreng saja. Dia tampaknya pergi ke rumah sebelah untuk mengecek keberadaan kawan serumahnya.

"Iya mereka ada di sebelah", sahutnya dari pintu depan. Dia mengeluarkan motor, lalu memanaskannya. Pukul 9 pagi, suasana komplek perumahan masih sepi tidak seperti biasa. Tampaknya semua lelah setelah merayakan pergantian tahun. Tidak ada penjual makanan ataupun kue yang jualan hari ini.

Nasi goreng pedas sudah matang, aku pun memanggil dia yang sedang mencuci motornya. Dia bilang mau mandi dulu baru sarapan, sekalian dia mau ke rumah bosnya untuk kembali meminjam mobil. Sebelum mandi dia kembali ke rumah sebelah untuk membangunkan kawan-kawannya. Dan mereka pun kembali bersama ke rumah, sambil membawa beberapa potong ayam sisa semalam mereka berpesta.

Kami makan bersama di ruang tengah. Aku menyelesaikan makanku lebih dulu, dan pamit untuk mandi dan bersiap pulang. "Ngobrol dulu saja lah kak, masih lama ini. Pesawat jam3 toh, jalan dari sini jam2 pun masih keburu sampai sana", kata salah satu kawannya. Aku melirik dia, dan dia cuma tersenyum sambil meneruskan makannya.

"Jadi kakak sudah berapa lama berhubungan?", Tanya kawannya. "Cukup lama.. sekitar 4 tahun sepertinya", kataku. "Wahh lama juga yah, jangan lama-lama kak, minta saja lamar segera. Daripada nanti kakak direbut orang", kata kawannya lagi. Aku tersenyum, dan kulihat dia yang digoda hanya diam seperti pura-pura tidak mendengar.

Dia sedang ke belakang untuk mencuci piring serta peralatan masak yang kotor. Tiba-tiba salah satu kawannya kembali bicara, "aku suka dengan kalian berdua, terlihat cocok dan mengisi satu sama lain. Bukannya aku tidak tahu persoalan diantara kalian, tapi aku doakan semoga ada jalan terbaik untuk kalian berdua". "Terimakasih", sahutku. Dan kali ini air mataku tidak bisa kutahan lagi, aku masuk ke kamar dan menangis.

Dia mengetuk pintu kamar, kubilang untuk masuk saja karena tidak dikunci. Dia bertanya sedang apa, aku berkata sedang membereskan barang bawaanku dan bersiap untuk mandi. Untungnya air mataku sudah mengering, dan kali ini justru dia yang memgingatkan tentang kepulanganku. "Sudah jam1, sana siap-siap. Aku juga mau ambil mobil dulu", begitu katanya.

Selesai berpakaian aku mendengar bunyi mesin mobil di depan rumah. Dia baru sampai. Aku segera membuka pintu kamar, dia menyeruak masuk dan ingin ganti dengan seragam kantor. "Aku absen dulu ke kantor, biar nanti aku tidak telat sekembalinya mengantar mu", jelasnya. Hari ini memang jadwal dia bekerja shift siang. Dia pun segera menaiki motornya dan pergi ke kantor.

Tidak ada 5 menit dia sudah kembali ke rumah. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 lewat 15 menit, aku pun diminta untuk menaikkan barangku ke mobil. Semua kawan rumahnya ikut mengantar, kami berempat berangkat menuju bandara.

Sekitar 35 menit kami sampai di bandara, sedikit lebih cepat ketika perjalanan ketika aku datang. Aku segera check in tapi tidak langsung masuk ke ruang tunggu, dia mencegahku. "Nanti saja, pesawatnya juga belum datang", begitu katanya.

Di sebelah tempat check in ada pos damkar. Kami berempat duduk disitu. Tak sengaja dia bertemu salah seorang kawan yang membantunya untuk aku mendapatkan tiket hari ini. Mereka berdua tampak asik bercengkrama. Aku tahu, permintaanku sedikit mendadak dari tanggal yang dijanjikan. Lebih cepat sehari, dan agak sulit memdapatkan kursi disaat musim liburam seperti ini. Karena itu tampaknya dia meminta bantuan kawannya tersebut.

Selesai bercengkrama dia kembali kepada kami. Duduk disebelahku tapi tidak bicara sama sekali. Aku merasa serba salah, aku ingin memecah keheningan ini tapi aku takut salah bicara. Jadi kudiamkan saja.

Pesawatku sudah datang, kedua kawannya langsung beranjak dari duduknya bersiap untuk melakukan perpisahan. Aku bersalaman dengan mereka, aku bilang untuk mengabarkan kalau mereka mau ke Jakarta biar nanti aku temani jalan-jalan. Lalu mereka segera menuju parkiran. Aku dan dia mengikuti mereka berjalan dari belakang, hanya saja kami berbelok ke bagian pemerikasaan. Aku melihat wajahnya, spontan aku berkata, "yah dia sedih.. matanya ngembeng, kasian". Dia sedikit terlihat kecewa dan kembali menahanku di depan pos pemeriksaan. Aku mengelus perutnya yang agak buncit, "jaga diri baik-baik yah, makan teratur, jaga kesehatan", pesanku padanya. Sesungguhnya aku ingin memeluknya, melakukan ritual ciuman kami, tapi dengan budaya timur rasanya tidak mungkin berpelukan sembarangan di depan orang banyak. Jujur sedih sekali rasanya, aku ingin kembali menghirup aroma tubuhnya, untuk kurekam dalam ingatanku.

Aku pun melewati pos pemeriksaan, tapi dia masih mengikutiku dari balik dinding. Dia melongok dari sebuah jendela kecil yang menyambung ke ruang tunggu. Aku kembali mendekatinya sambil menunggu penumpang lain masih menuju bus yang mengantar ke pesawat. Aku menggenggam tangannya, dia pun turut melakukan hal yang sama. Begitu kuat, bahkan rasanya aku merasakan perasaan kehilangan yang besar dari dirinya.

Aku bilang, "sampai jumpa lagi", walau aku tidak tahu kapan kami bisa berjumpa lagi. Entah apa yang akan terjadi dari hubungan ini, ketakutan antara dilupakan atau melupakan, juga tidak tahu siapa yang paling merasa kehilangan, yang pergi atau yang ditinggalkan. Aku tidak pernah ingin pergi dari sisinya, karena aku tahu rindu ini menguatkan. Tapi aku lebih tidak tahu takdir yang sedang kami jalani akan membawa kami ke akhir seperti apa. Ada hal yang lebih banyak harus kami perjuangan selain jarak, yaitu perbedaan keyakinan. Menahan kami selama bertahun-tahun, untuk tidak beranjak kemanapun.

Selesai

Sabtu, 31 Desember 2016

31 Desember (Part 5)

aku masih ingat sekali bagaimana aku menghabiskan hari terakhir sebelum pergantian tahun itu. di pagi harinya kami sarapan tanpa banyak bicara, bahkan saat check out hotel kami sempat beradu mulut siapa yang mau membayar biaya penginapan. saat itu aku memang memegang uang tunai lebih, jadi menurutku biar pakai uangku saja daripada harus menunggu dia mengambil uang di ATM terlebih dulu. "mesin debit nya sedang bermasalah pak", begitu kata resepsionis. wajahnya semakin masam sehabis itu, di jalan dia bilang, "tolong biarkan aku terlihat berguna sebagai laki-laki, aku bisa membayar itu, aku sekarang sudah punya cukup uang walau tidak banyak". "iya aku tahu, maaf ya.. lain kali kamu harus mentraktirku makan enak di Jakarta", sahutku sambil mengusap punggungnya.

hari itu entah dia sadar atau tidak, aku menggunakan kesempatanku bermanja dengannya. aku tidak ingin dia mengantarku nanti dengan mood yang tidak enak seperti ini. lalu aku pun iseng memfoto dirinya dari pantulan di spion motor, biar nanti dia lihat wajahnya yang masam. "nih, muka kamu kalau manyun. gantengnya hilang deh.. tapi aku nya jadi makin gemes", kusodorkan handphoneku ke depan mukanya. dia melirik sekilas, lalu tersenyum. "ah jangan kalau gitu, masa nanti kamu lihatnya foto aku lagi manyun kalau kangen. ayok foto lagi". dan aku pun kembali memfoto dirinya dengan angle yang sama, tapi dengan wajahnya yang tersenyum.

perjalanan ke rumahnya sedikit lebih lambat, sepertinya dia sengaja membawa laju motornya di bawah standar. biarlah.. tidak mengapa, kugunakan kesempatan ini untuk memeluk tubuhnya, merasakan punggungnya yang lebar di pipiku, menghirup aroma tubuhnya, serta wangi pengharum di pakaiannya. aku mencoba merekam semua itu di pikiranku, tidak boleh tidak.

di rumahnya ternyata sepi, kawan-kawannya sedang keluar menyiapkan acara tahun baru nanti malam di rumah seorang kawan yang lain. hari ini dia akan masuk sore, dan baru kembali sekitar pukul 9 malam. tandanya aku punya banyak waktu sendiri nanti, lebih baik aku mulai menyiapkan bahan makanan nanti sore saja pikirku. "jadi nanti yang akan di rumah siapa saja?, kalau tidak banyak lebih baik bahan makanan kita dibagi ke tempat kawanmu", kataku kepadanya saat dia sedang mencuci pakaian. "ahh kalau tidak ada orang ya aku saja yang habiskan sendiri, kalau tidak sanggup bisa disimpan buat makan esok hari lagi", jawabnya sambil memasukkan sabun ke mesin cuci. "mana pakaian kotormu? sini biar kucuci sekalian", tanyanya padaku. "enggak usah, biar nanti aku cuci sesampai di rumah saja", kataku. "bawa pakaian kotor itu berat, mending dicuci biar ringan.. lagian juga sekalian ini, mataharinya juga bagus pasti cepat kering", alasannya padaku. akhirnya aku pasrah saja saat dia memasukkan plastik baju kotorku ke mesin cuci.

salah satu hal yang membuatku juga senang kepadanya, bahwa dia bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga. bahkan bisa dibilang hasil kerjanya lebih rapih daripada aku yang perempuan. aku sebagai perempuan paling tidak suka mencuci dan menyetrika. tapi lain hal dengan dirinya, dia sudah terbiasa mencuci pakaiannya sendiri dari remaja. "risih", menurutnya kalau harus dicuci orang lain. hanya saja kalau aku yang memberikan alasan itu kepadanya, malah cibiran yang aku dapat.

pukul 2 siang, sembari menunggu dia selesai mandi untuk pergi ke kantor, aku menggorengkan ayam dan tempe goreng untuk makan siangnya. dia tidak menyelesaikan berpakaiannya, hanya bercelana pendek dan bertelanjang dada dia menyantap apa yang telah kusiapkan. "aku nambah ya.. kan tidak ada orang lagi", katanya dengan ekspresi seperti anak kecil. kalian tau tidak? aku sangat menantikan wajah saat dia sedang memakan masakanku, wajah yang menunjukkan seolah masakanku lah yang terenak, sekalipun itu cuma lauk sederhana dan rasanya biasa saja. entah bagaimana aku bisa mendapatkan sensasi ini lagi nanti ketika aku kembali rindu padamu, sedangkan kita berjauhan satu sama lain.

"aku absen sebentar, nanti aku kembali lagi sembari menunggu kawanku kembali", dia pamit setelah selesai makan. selang 5 menit dia pergi, kawannya datang bersama 2 kawannya yang lain. "kakak sendiri saja dirumah? sudah berangkat ya dia?", tanyanya. "mau absen dulu katanya, nanti kembali lagi", jawabku. tidak lama dia benar kembali, dia juga mengatakan pada kawan rumahnya tidak banyak kerjaan di kantor, jadi dia berniat kembali jam 4 saja nanti. aku sebenarnya agak kuatir dengan cara dia bekerja seperti itu, tapi menurutnya itu sudah biasa dan kebanyakan karena rumah para karyawan itu dekat jadi saat istirahat mereka kembali ke rumah.

saat kawan rumahnya ingin keluar, dia sempat mengingatkan, "jangan lama-lama, kasian nanti nonaku di rumah sendirian". "ikut kita saja yuk kak, main golf. cuma sebentar nanti sebelum magrib pun kita kembali", katanya. aku menggeleng, "ditunggu di rumah saja". dan jam 4 lebih sedikit, dia pun kembali ke kantor, meninggalkan aku sendiri di rumah. sebelum pergi dia mengingatkan untuk mengunci semua pintu, dan bila ada yang mencari tidak perlu dijawab.

saat magrib, kawan rumahnya kembali mengetuk pintu rumah. aku pun segera keluar kamar dan membukakan pintu. kulihat peluh membasahi tubuhnya, diapun membuka pintu depan dan membuka bajunya untuk menganginkan badan. aku yang melihatnya sedikit malu dan memilih masuk ke kamar dan menutup pintu.

aku mendengar ada orang mandi, kupikir itu pasti kawannya yang tadi pergi mandi. setelah aku yakin dia sudah masuk kamarnya, aku keluar dan menggorengkan ayam kembali dan membuat telur dadar untuk makan malam. kutawarkan pada kawan rumahnya, dan dia hanya bilang "iya nanti dulu, bareng dengan yang lain". dan ternyata kata bareng dengan yang lain benar adanya, dia dan kawan rumahnya yang lain kembali ke rumah pukul 8 malam. mereka makan bersama, begitupun dengan aku yang bergabung dengan mereka.

"ada kerjaan mendadak nih, kayanya aku agak telat pulang. paling tidak jam 10 aku baru sampai rumah", dia mengatakan itu padaku. dia juga berkata pada kawannya, kalau nanti giliran shiftnya yang akan melanjutkan pekerjaan mendadak itu. aku hanya bisa mencoba memaklumi. dan tidak lama aku kembali ditinggal sendiri di rumah.

pergantian tahun tinggal beberapa jam lagi, di handphoneku sudah ramai teman-temanku yang asik dengan liburan mereka menyambut pergantian tahun baru. sedangkan aku, aku hanya berharap bisa menghabiskan detik-detik pergantian tahun dengan orang yang paling aku cintai. yang sekarang belum datang, karena sibuk dengan pekerjaannya.

"aku pulang nih.. bukain pintunya dong", suara khasnya mengagetkanku yang sedang mendengarkan musik. saat kubuka pintu dia langsung memelukku, "maaf ya jadi nungguin lama". aku membalas pelukannya dengan ciuman di pipi, "bau asem.. bersih-bersih sana", kataku. dia memberikan salam hormat sambil berkata, "oke bos!".

setengah jam lagi tahun sudah berganti, kami menikmati pergantian tahun dari teras rumah. kembang api sudah mulai dinyalakan. bunyi alunan musik dari acara kantornya yang diadakan di lapangan komplek masih terdengar. kami hanya saling menyenderkan badan satu sama lain, menggenggam tangan. tidak terasa bunyi terompet saling bersahutan pertanda tahun telah berganti. kami saling pandang, dan mengucapkan selamat tahun baru. "semoga kita jadi orang yang lebih baik lagi ya.. dan semakin sayang satu sama lain", katanya. "semoga pekerjaan dan rejeki kita juga semakin bagus, jangan pernah berubah ya", kataku kepadanya. iya jangan pernah berubah, satu kalimat yang sedikit aku tekankan. aku takut semua akan berbeda nantinya, tentang kita, tentang hubungan ini.

hanya 5 menit setelah tengah malam lewat, kami memutuskan masuk ke dalam rumah. dia kembali memakan makanan yang awalnya disiapkan untuk kumpul tahun baru, apa daya kebanyakan kawan-kawannya ada yang bmasuk kerja dan memiliki acara sendiri. aku masih menatap keluar jendela menikmati aksi kembang api. cukup meriah dan bagus, tidak kalah dengan Jakarta. langit malam itu berwarna-warni, silih berganti.

aku bilang padanya kalau aku mengantuk, ternyata dia pun begitu. kami pun akhirnya masuk ke kamar, ini pertama kalinya aku merasakan tidur di kamarnya setelah hampir 5 hari aku berada disini. kasurnya cukup untuk berdua, yang ternyata aku baru tau kalau kasur ini baru dibelinya saat dia tau aku setuju untuk datang ke tempatnya. saat ini kami saling berhadapan di atas kasur, aku menatap wajahnya, menikamti setiap lekukan yang ada. alis yang tebal, mata yang sayu, hidung yang besar yang suka aku ledek boros oksigen, bibirnya juga mungil sepertiku, tapi warnanya lebih merah daripada aku. dalam hati aku mengatakan maaf terus menerus, maaf dengan alasan yang banyak sekali yang tak bisa aku utarakan.

"kamu kok sedih?", ucapannya membuyarkan lamunanku. "enggak sedih kok, kenapa bilang gitu?", aku mengelak. "iya kamu keliatan sedih, malah sampe bengong", katanya lagi. aku tidak berani berkata, takut air mata ini tumpah dan dia melihatnya. kuputuskan untuk menaruh kepalaku di dadanya, kunikmati setiap hela nafas dan detak jantungnya hingga akupun tertidur.


....... bersambung

Jumat, 30 Desember 2016

30 Desember (Part 4)

Aku terbangun karena rasanya udara menghangat, aneh sekali.. kulihat jam di handphoneku yang kutaruh di bawah bantal. Pukul 6 pagi, dan aku tidak mendengar sama sekali alarm ku berbunyi. Aku membalikkan badan ku ke arah jendela, dan betapa aku kaget melihat ada dirinya duduk dengan manis di lantai sambil terus menatapku.

"Ahhh ngapain sih ngeliatin gitu, gak suka ah", sungguh sebenernya bukan aku tidak suka kala itu tapi aku malu. Malu karena kau harus melihat wajah bangun tidurku atau wajah saat aku tertidur yang aku pun tidak tahu pasti seperti apa rupanya. Lalu kau beranjak dari duduknya dan menyelusup ke balik selimut disebelahku. "Selamat pagi nona.. tidurnya pules ya kalo enggak ada yang ngorok", dia mengatakannya sambil menempelkan hidungnya di hidungku. "Gak jadi pulang semalem? Katanya kerja pagi", aku berusaha mengalihkan pembicaraan walau dengan mata tetap terpejam. "Tadinya gitu, pas aku liat kamu menggigil aku matiin ac eh tapi kasian kalo sendirian ditinggal. Ya udah aku nginep aja", jelasnya dengan santai. Aku menyuruhnya segera mandi biar dia tidak telat kerja, dan dia pun segera bangun menuju kamar mandi.

Aku kembali tidur saat dia mandi, tak lama aku merasakan badanku berat. Ternyata ada dia memelukku dari atas selimut. "Ihh berat tau, iseng ah", aku sedikit berteriak. "Ah semalem kamu diam aja pas tidur aku peluk begini, malah enak kan jadi hangat. sekarang jadi galak", ujarnya. Sungguh aku tidak sadar akan hal itu, tapi memang rasanya tidurku nyaman sekali semalam bahkan aku sempet bermimpi indah piknik berduanya di sebuah taman.

Aku sudah tidak bisa tertidur setelah itu, dia pun sudah siap berangkat kerja. Kutawarkan untuk mengecek sarapan hotel di restoran dulu, mana tahu sudah siap. Tapi dia bilang tidak sempat takut terlambat, jadi kutawarkan untuk menyimpan jatah sarapannya di kamar untuk dimakan siang nanti dan dia pun setuju. "Tunggu aku nanti saat istirahat siang, aku kembali ya nona", katanya sambil melambaikan tangan di depan pintu. Dia tersenyum gembira, aku pun begitu. Ada rasa bahagia menyemburat di tubuhku, terlebih panggilan nona darinya yang membuaikan membuatku berpikir hanya akulah miliknya

Hari sudah hampir tengah hari, perutku terasa lapar. Saat sarapan tadi aku hanya makan sedikit, kurang selera karena perut ini masih terasa kembung dan akibatnya sekarang perutku meronta minta diganjal. Kucoba mencari warung di sekitar hotel, nihil. Padahal kalau di jakarta ritel swalayan dengan mudah ditemukan dalam jarak 20 meter. Disaat aku arah balik ke hotel aku melihat tukang somay mendorong gerobaknya, kutanya apakah masih ada dan kubeli saja tahu, kol, serta kentang. Aku tidak berniat membeli somaynya, teringat bakso yang pernah kumakan dan ternyata zonk. Kemudian aku kembali ke kamar hotel.

Tahu yang kubeli ada sedikit adonan somay, saat kucoba aku langsung bersyukur tadi tidak membeli somaynya juga. Hehe.. aku rasa kalian paham bagaimana rasanya dari perkataanku ini. Dan tepat pukul 1 dia kembali ke hotel, dia pun langsung bersih-bersih dan memakan sarapan nya yang sudah mendingin. Ketika kutanya apa rasanya makan makanan yang sudah dingin, dia hanya menjawab dengan jempol diacungkan. Rasa lapar memang bisa mengalahkan segalanya.

"Kamu ngapain aja daritadi sendirian?", tanyanya setelah selesai makan. "Nonton film, mandi, nonton lagi terus cari cemilan", jawabku. "Berarti belum makan siang?", tanyanya lagi. "Udah tadi beli somay abang-abang lewat", sahutku. "Enak gak?", dan pertanyaan itu aku jawab dengan cengiran khas ku.
Dia kembali ke kantor tak lama setelah itu, jam 4 dia berjanji kembali ke hotel lagi. Dia juga bertanya apakah ada yang mau dibelikan, dan kujawab tidak. Aku mau memesan makanan dari restoran saja untuk malam nanti, dia pun berkata oke. Dan benar saja, jam 4 dia sudah kembalu ke hotel dengan pakaian yang sudah berganti. Kutanya apakah dia pulang terlebih dahulu, dia menjawab, "iya tadi aku mandi dulu, enggak betah badanku kotor sekali terkena debu dari alat pabrik".

Malam yang tenang, aku menyenderkan kepalaku di dadanya sambil menonton tv. Dia juga asik makan kacang yang dibelinya di perjalanan kembali ke hotel. Tok tok tok. Bunyi pintu kamarku diketuk. "Yeayyy makan malamnya sudah jadi", sambutku sambil membuka pintu. Malam itu kami makan mie titi, sejenis mie yang mirip dengan i fu mie. Aku lupa kalau mie dengan kuah kental ini lama sekali dinginnya, saat aku menyuapkan ke mulut alhasil lidahku terbakar. Dia terlihat panik dan segera membukakan air mineral untukku. Dan setelah itu aku dinasehatinya agar lebih berhati-hati.

"Aku akan pulang tgl.1, bisa carikan aku tiket?", Ucapku saat kami akan beranjak tidur. "Memang kamu sudah dicari kantormu?", Tanyanya. "Enggak sih, tapi paling tidak aku mau istirahat dulu di rumah sebelum kembali beraktifitas lagi", jawabku. "Nanti aku coba carikan, berarti besok kita check out kita habiskan malam tahun baru di rumahku saja", dia berkata seperti itu dan kulihat ada rona kecewa di wajahnya. Dan setelahnya kami tidur saling memunggungi, hening, tanpa pembicaraan lagi.



...... bersambung

Kamis, 29 Desember 2016

29 Desember (Part 3)

Pukul 3 pagi.. dan aku belum bisa tidur juga. Sesekali aku menatap dia yang tidur di ranjang sebelahku, tidur begitu damai seperti bayi dengan selimut yang menggelung di badannya. Jangan bandingkan dengan kasurku yang sudah kuacak-acak karena kesal. Total 4 kali aku mencoba memencet hidungnya agar berhenti mendengkur, tapi hanya 2 kali yang berhasil setelah itu tidak berpengaruh. Aku sudah mencoba mengeraskan volume tv, lagu di handphone, dan bernyanyi sendiri berharap dia terbangun. Karena terlampau kesal, aku membuang selimut dan bantalku ke bawah kasur. Menyerah, aku menonton siaran bola yang notabene aku tidak suka.

Bunyi adzan subuh sayup kudengar dari arah luar hotel, aku pun bergegas mengambil air wudhu dan berharap amarah ku mereda sebelum fajar menyingsing. Kuambil mukena ku dari tas, tapi ternyata sajadah kecilku tidak terbawa didalamnya. Terpaksa kucari handuk bersih yang belum terpakai dan kujadikan alas sholat. Saat berdoa selesai sholat, aku tidak lagi mendengar dengkurannya. Kulirik dia yang masih terlelap, aku berdiri dan merapihkan selimutnya. Aku pun berniat tidur walau sekejap, setelah merapihkan mukena.

Baru saja aku memejamkan mata, aku mendengar suaranya menegurku, “ini yang tidur sampe selimutnya kemana-mana”. Aku tidak membuka mataku, dan kurasakan dia mulai menyelimutiku. Aku pura-pura terbangun, walau rasanya hati menjadi dongkol kembali. Mataku mengerling padanya lalu aku membalikkan badan. Tiba-tiba dia membaringkan tubuhnya di sebelahku, dan reflek aku mendorongnya hingga terjatuh lalu kukatan, “jangan ganggu, baru mau tidur nih”. Dia terlihat bingung menatapku, dan akhirnya memilih mengalah kembali ke kasurnya.

Mungkin sekitar 1 jam setengah aku terlelap, saat terbangun aku melihat dia sedang menonton tv. Dan kata pertama yang dia ucapkan adalah, “selamat pagi, maaf ya.. pasti kamu tidak bisa tidur semalaman karena aku ngorok”. Masih nampak kekesalan di wajahku, aku pun berkata, “sampe capek aku bikin berisik semaleman tapi gak kebangun juga”. “harusnya kamu tendang aja aku pas ngorok”, begitu jawabnya dan memang aku sempat terpikir seperti itu semalam tapi sayangnya aku tidak tega.

Jadwal hari itu dia mengajak ke pasar dan membeli  umpan untuk memancing. Iya kami mau memancing, dan dia juga mau aku masak untuknya. Padahal yang aku tahu sebagai laki-laki dia juga senang berkutat di dapur. Dulu sewaktu masih sama-sama di Jakarta, dia bahkan sering membuatkan aku sarapan yang akan kumakan sembari dia mengantarku ke kantor. Tapi kali ini dia mau aku memasak untuknya, terserah masak apa, yang penting aku membuatnya pakai cinta. Lucu.

Waktu menunjukkan pukul 11 siang, aku baru selesai membereskan barangku. Aku bilang padanya untuk mencari penginapan lain yang lebih murah, karena keuanganku menipis kalau harus terus menginap disitu. Sekalipun dia berniat membantu membayarkan, akhirnya dia pun setuju untuk pindah penginapan. Yang lebih dekat dengan rumahnya tentu saja. Dan kami pun segera check out.

Pasar disini kurang lebih sama dengan pasar tradisional pada umumnya. Aku membeli daging, telur, dan sayur. Oh iya tidak lupa bumbu dapur dan teman-temannya. Sehabis itu aku menemainya membeli umpan pancing. Dan langsung menuju ke rumahnya setelah keperluan kami terbeli semua. Tiba di rumah aku langsung menyiangi bahan masakan, tapi untuk makan siang aku hanya membuatkan pizza mie. Iya bahan-bahan itu untuk dipakai saat malam pergantian tahun nanti memang niatnya. Kebetulan di rumahnya belum ada kulkas, jadi dia berinisiatif menitip pada tetangganya.

Ketika dia sedang makan, kawan-kawan serumahnya datang, jadi sekalian saja kusuruh makan siang juga. Untungnya cukup, walau sempat kudengan dia berkata, “jangan dihabiskan, ini dibuat khusus buatku pakai cinta”. Aku tertawa mendengarnya di balik kamar, lalu kuhampiri dirinya dan kuusap rambutnya. Selesai mereka makan aku berniat mencuci piring dan bekas peralatan masak, tapi dicegah olehnya. Katanya, “kamu sudah masakin buat aku, jadi tenagaku penuh dan giliranku buat mencucinya”. Ah ya, melihat pemandangan seperti ini membuatku berkhayal seperti pengantin baru. Susah senang ditanggung bersama, tapi sayang itu hanya angan semata.

Aku menunggunya selesai mencuci piring di kamar, tak lama dia pun masuk dan duduk di depan kipas angin. Gerah rupanya. “mau mancing sekarang atau nanti?”, tanyanya. Aku bilang boleh saja kalau mau sekarang, toh nanti kita harus cari penginapan lagi. “kamu enggak nyaman yah kalau tdur disini saja?”, tanyanya lagi. “aku tidak enak dengan kwan-kawanmu, lagipula rumah ini selalu ramai dengan tamu”, kataku. Dan pembicaraan pun selesai.

Hari ini dia masih libur, jadi bisa menemaniku seharian. Kami sudah duduk di jembatan pinggir jalan dengan pancinga di tangan kami. Sayang air masih terlalu surut, jadi tidak banyak ikan yang mencari makan di bawah jembatan. Dan kami pun pulang dengan tangan hampa, dengan bonus muka yang tersengat panas matahari.

Sehabis menaruh peralatan memancing di rumahnya, aku meminta dia untuk membeli makan malam dahulu untuk dimakan di penginapan nanti. Baru habis itu kami berkeliling mencari temapt aku bermalam. Setelah penginapan ketiga, akhirnya dia setuju aku menginap disitu. Dia takut kalau harus meninggalkan aku sendiri di penginapan yang posisinya terlihat tidak aman. Dan ternyata tempat aku menginap adalah hotel baru di kota itu, jadi tampilan dan fasilitasnya masih gres.

Kami makan bekal yang kami beli tadi di kamar, akhirnya aku bisa makan makanan yang rasanya Jakarta sekali. Nasi uduk Lamongan, ahh mantap jiwa. Pedasnya si sambal langsung membuat rinduku pada Jakarta terbayarkan. Dia terkekeh melihat aku makan dengan semangat. Tidak butuh waktu lama untuk kami menghabiskan makan malam kami. Setelah itu dia bertanya apakah aku masih mau keluar lagi atau tidak, kutanya “memang kita bisa kemana?”. Cari cemilan katanya.

Dan sekarang aku sudah berada di atas jok motor menembus dinginnya angin laut dikala malam demi mencari minuman hangat. Padahal tanpa minuman hangat, punggung di depanku ini terlihat lebih menggiurkan dan dijamin hangat samapi ke hati. Hehe. Kami berhenti di dekat demaga, lalu dia memesan 2 buah gelas minuman yang baru kutahu namanya Saraba. Minuman ini seperti bajigur wujudnya, tapi rasa jahenya kuat seperti wedang ronde. Kira-kira begitu menurutku. Aku tidak menghabiskan minumanku, karena mendadak perut ini terasa kembung. Aku memintanya mengantar ke apotik terdekat, badanku mulai tak enak seperti masuk angin.

Di hotel aku segera minum obat yang kubeli, dan menutupi tubuhku dengan selimut. Dia juga membantu menyelimutiku. Aku mengatakan, “kalau kamu kerja pagi nanti tidak apa pulang saja, aku juga mau tidur”. “aku tunggu sampai kamu tidur, baru nanti aku pulang”, begitu jawabnya. Obatku tampaknya mulai bereaksi, aku pun terlelap dan berdoa semoga sakit ini tidak akan membuat dia kerepotan.


...... bersambung

Film Absurd: SWISS ARMY MAN

kalau kamu ngerasa diri kamu cukup absurd, atau suka film absurd, atau malah kegiatan browsing absurd kamu mengantarkan ke blog ini, terimakasih anda layak dapat bintang.
buat yang udah nonton film ini, gw gak tau apakah hal yang sama juga lo alami. tapi buat yang belum nonton, gw juga bingung nyaraninnya. tapi lo mesti nonton deh, anggep aja lo nonton ini karena kangen sama aktingnya si harpott, atau apalah.



Ini film keluaran 2016 yang belum lama gw tonton dan memberikan efek bengong, mikir, ketawa, kesel, tapi tepuk tangan sendiri pas udah selesai. jujur aja gw nyetel film ini secara random di hard disk abang gw, tanpa tau siapa yang main, apalagi sinopsisnya.

jadi alkisah, pembukaan film ini lo langsung disuguhkan sama seseorang yang tampak terdapar di suatu pulau dan mau bunuh diri (Paul Dano sebagai Hank), terus ada sesosok tubuh yang terdampar di bibir pantai. berpikir mungkin itu adalah 'sesuatu' yang bisa nyelametin dia dideketin lah ceritanya. ternyata sesosok tubuh itu udah jadi mayat (Daniel Radclife sebagai Manny). dan adegan-adegan selanjutnya membuat lw berpikir untuk menganggap apakah harus ikutin jalan pikiran si orang terdampar, atau menganggap itu semua cuma khayalan si orang terdampar.

film ini cukup konyol menurut gw, gimana si mayat bisa jadi teman yang hebat, memotivasi si orang terdampar untuk mewujudkan impian dia. dan gimana si mayat terlihat sangat 'berguna' bagi si hidup, mungkin itu juga alasan dibikin judulnya swiss army man. kayak yang kita tau pisau lipet serbaguna luaran sana itu, cuma ini versi orang. yang membuat gw takjub adalah kemampuan kentut si mayat yang luar biasa, sampe bisa dikendarain si orang terdampar macem jet ski. kalo lo berpikir semua itu khayalan si orang terdampar, silahkan lo nikmatin sampai film ini selesai dan lo buktiin gimana sebuah film bisa mengecoh pikiran lo.

pas film ini baru mulai gw langsung ngenalin pemain cowoknya, itu Dano!! iyah Paul Dano, pertama kali gw liat dia di film Little miss sunshine, abis itu di Taking woodstock dan setau gw peran2 dia di film memang cukup aneh bin nyentrik. jadi gw penasaran bakal jadi kayak apa film ini kalo ada dia. dan selanjutnya jeng jeng ada si harpott alias Daniel Radclife. gw langsung pesimis gitu, jujur aja dari beberapa film yang dia bintangin setelah Harry Potter gw ngerasa masih kebayang dia jadi harpott aja gitu. tapi ternyata gw ditipu... akting dia di swiss army man sebagai mayat, gw acungin jempol. he's so real.. takjub gw, ampe gw mikir dia gak malu yah akting kaya gitu. karena notabene akting dia di film ini banyak hal yang cukup menjijikan (kelakuan Dano sama Daniel sih).

sambil nulis ini, gw iseng sih ngecek tempat dimana kalian bisa download filmya, dan ternyata gak susah dicari. jadi monggo kalian streaming atau download sendiri. kalau gw taro link nya juga ntar dianggap menjamurkan perbajakan lagi. dan buat yang masih enggak ada bayangan film kaya apa ini, gw kasih trailernya yah


oia di film ini juga banyak kata-kata yang meaningfull kalau kita sadar, dan ini beberapa yang gw suka:

Manny: If my best friend hides his farts from me then what else is he hiding from me, and why does that make me feel so alone?
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hank: Manny I think your penis is guiding us home. (dan ini serius.. mereka menggunakan penis manny yang tegang sebagai GPS)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Manny: My names Manny and this is my best friend Hank. I used to be dead and he brought me back to life.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hank: Maybe that's just something the brain invents to survive.
Manny: Yeah. Like maybe your brain invented me to distract you from the fact that eventually your eyes are gonna stop blinking and your mouth will stop chewing and your blood will stop pumping and then you're gonna shit yourself. And that's it.
Hank: No. No, that's not it. Because then my organs are going to shit themselves.
Manny: And then your cells will shit themselves, and then all your shit's gonna get mixed in with everyone else's shit till there's nothing left of you, and then that's it.
Hank: I don't know, man. That sounds kind of nice, everyone's shit mixing, because then someday some of your shit is gonna meet up with some of my shit, and we'll have something to look forward to, you know?
Manny: You're disgusting.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hank: Every day, you ride the bus and count the minutes, hoping you'll see her again. She smiles, and you feel a strange tingle up the back of your neck. Something carnal inside of you causes your body to break out in sweats. You feel like the luckiest man in the world. She sits alone, just like every other day, and looks out the window lost in her thoughts. You know that look. She's just as alone as you are. But she doesn't have to be. You could talk to her. Tell her you'd love to sit next to her today and every other day, because life is short, and no one deserves to ride the bus alone.

Rabu, 28 Desember 2016

28 Desember (Part 2)

Lampu di handphone ku menyala, tanda ada pesan yang masuk. Saat itu pukul 1 dini hari. Mataku belum terpejam, bahkan bisa dibilang tidak mengantuk sama sekali. Kuambil handphone ku lalu kubaca pesan yang ternyata darinya. Pesan itu berbunyi “sudah sedekat ini tapi masih saja tidak bisa bersama, aku rindu kamu. Sungguh”. Aku tersenyum, sambil segera membalas pesannya, “kan barusan ketemu, masa masih rindu. Gimana kerjaanmu malam ini?”. Ting. Pesan baru sudah masuk kembali, “enggak fokus, kepikiran kamu. Belum tidur?” dan kujawab “nanti penilaianmu jelek kalau males kerja. Belum ngantuk nih”. Agak lama dia tidak membalas pesanku, sekitar 10 menit kemudian pesan baru masuk, “tidur sana, kita akan pergi jauh nanti. Jangan sampai malah kamu tidur di jalan. Selamat tidur :* “.

Hehe.. membaca pesan itu membuatku lupa membalas, dan sepertinya dia menunggu balasanku karena pesan selanjutnya begitu terlihat tidak sabaran, “aku beneran ditinggal tidur nih?”. Langsung saja kubalas, “iya aku tidur duluan yah, kamu kerjanya yang fokus. Hati-hati”. Kutarik selimutku menutupi muka. Cuaca diluar terasa dingin, mungkin karena dekat dengan laut tapi entah kenapa tubuhku rasanya hangat. Yah mungkin karena cinta.

Alarm di handphone ku berbunyi, tersetting pukul 5 pagi seperti alarm aku biasa bangun untuk berangkat kerja. Tubuhku tampaknya terlalu tidak sabaran hari ini, beda sekali dengan bangun pagi di ibukota. Aku mengecek kotak pesan, tidak ada yang baru. “mungkin dia sibuk”, pikirku. Sarapan pagi pasti belum tersedia, dan kebetulan aku juga bukan orang yang biasa sarapan. Tapi apa boleh buat, tidak sarapan saat di hotel itu sebuah kerugian dan aku bingung harus melakukan apa untuk menunggu satu setengah jam lagi kira-kira.

Aku menyalakan tv kabel, membuka jendela, lalu pergi ke kamar mandi. Membuang sesuatu yang harus dibuang, iya itu saja yang kulakukan. Sambil bermain game di handphone, ritual ini bisa memakan waktu hingga setengah jam. Ide bagus bukan?.

Jam di handphone menunjukkan pukul 05.35, kuketik pesan untuknya “aku sudah bangun, kayanya kepagian. Kamu masih di kantor?”. Pesan dikirim. Ku tuntaskan hajatku, lalu kembali menggelung di kasur. Pesanku tidak terbalas hingga pukul 6 pagi.

“aku mandi dulu, baru nanti aku ke hotel yah”, begitu katanya. Kujawab, “iya, jangan sarapan. Bareng saja nanti disini”. “ok”, singkat dibalasnya. Aku masih malas mandi, lantai kamar mandinya tadi dingin sekali dan sendal kamar tidak sengaja terguyur air olehku. Air panas yang ada pun tidak membuat keinginan untuk mandi datang. Jadi kuputuskan menunggu dia saja, lalu sarapan. Mungkin perut yang terisi membuat badanku jauh lebih hangat untuk mandi nanti.

Pukul 7 lewat 15 menit, ada yang mengetuk pintu kamar ku. Kukira dia ternyata bukan. Room service menanyakan apakah mau dibersihkan sembari aku sarapan. Teringat genangan air di kamar mandi, jadi kuputuskan untuk membersihkan dan aku pergi ke restoran sembari menunggunya. Di restoran ternyata ramai, petugas hotel meminta kartu makanku tapi aku mengatakan hanya ingin melihat saja. Lalu akupun beranjak ke lobby hotel.

Dan akhirnya aku memutuskan sarapan terlebih dahulu. Bukan karena lapar, tapi terlampau salah tingkah karena dia tak kunjung datang. Kulihat jam tangan, pukul 9 pagi. Pesan dan telepon ku padanya tidak mendapat jawaban. Sedikit dongkol, aku menyelesaikan sarapanku lalu kembali masuk ke kamar. “apa dia sengaja mau membiarkan aku sendirian disini?”, sempat terpikir bahwa dia menjahatiku.

Sekitar 10 menit aku dikamar, handphoneku berdering. Suara di ujung mengatakan, “aku diluar nih, bukai dong pintunya”. Kubuka pintu kamar, dan dia yang sudah membuatku kesal Cuma memamerkan deretan giginya yang rapih. “maaf ya lama.. aku isi bensin dulu tadi”, begitu alasannya. Aku menyuruhnya untuk sarapan sendiri sembari aku mandi. Dia kaget ternyata aku belum juga mandi dan tega karena sarapan duluan, tapi dia segera ke restoran saat kubilang semua menu makanannya hampir habis. “makan yang banyak yah, sekalian perbaikan gizi wahai anak kos”, kugoda dia sambil menutup pintu kamar dan bergegas mandi. Hanya butuh waktu 15 menit untuk aku mandi dan bersiap, lalu kususul dia ke restoran. “belum selesai juga makannya?”, kutanya sambil menarik kursi untuk duduk. “katanya suruh perbaikan gizi, ini belum semuanya dicoba”, jawabnya dengan mulut penuh makanan. Aku tersenyum simpul. Sekilas kulihat tubuhnya sekarang, tidak seperti orang kekurangan makan sebenernya. Malah tubuhnya kini lebih berisi, pipinya saja semakin bulat. Dan tanpa sadar aku pun tertawa. Dia bingung melihat ku tertawa sendiri tapi tidak berani menanyakan ada apa.

Sekarang kami sudah siap untuk menjelajah, aku duduk manis di sebelahnya sambil ngemil kacang yang dia beli di warung kelontong tadi. Kutanya mau kemana, dia hanya bilang “pokoknya jauh, yang penting sama aku”. Jalanan disini menurutku sudah bagus walau tidak terlalu lebar. Semuanya sudah di aspal, hanya saja bila berpapasan dengan kendaraan lain sering mengagetkan. Laju pacu mereka tidak ada yang lambat, mungkin karena dipikir masih jarang kendaraan disini, terutama untuk roda 4.

“wah jangan-jangan kita terlewat, daritadi kok enggak ada papan penunjuknya yah? Ini sih kita udah beneran jauh banget jalannya”, entah dia bicara sendiri atau denganku. Dia memutar balik mobil, dan sekitar 4 km kemudian dia memasukkan ke jalanan rusak dengan papan penunjuk yang sudah mulai apuk. “ini dia tempatnya, surga tersembunyi..”, aku masih penasaran dengan perkataannya tapi ternyata itu memang surga tersembunyi. Hamparan pasir putih, air yang jernih dan tidak terlalu dalam, didukung langit yang sangat cerah saat itu, membuat pemandangan pantai yang sungguh mempesona.

“coba kita bawa serokan, terus bisa bakar ikan sekalian deh”, kataku padanya saat melewati jembatan kayu kecil. Air di bawah jembatan didiami ikan-ikan seukuran telapak tangan yang hilir mudik, banyak sekali. Kami berdua berjalan menyusuri pinggir pantai lalu berhenti untuk duduk di atas dahan kelapa yang sudah ambruk. “aku tahu kamu gak suka air, tapi disini kebanyakan hanya ada pantai, maaf ya”, aku hanya mengangguk saat dia berkata seperti itu. Kami banyak bercerita, juga berfoto berdua, malah bisa dibilang dia yang lebih banyak ingin berfoto berdua. Aku akhirnya bertanya karena penasaranku yang terlanjur besar, “kamu biasanya ngapain kalau lagi kesepian? Disini hiburannya apa?. Dia melihatku lalu berkata, “kamu.. hiburannya kamu”. “kok aku?”, aku bingung. “iya, aku liatin aja foto-foto kamu terus cerita sendiri hari itu aku ngapain. Atau enggak aku nonton video dari kamu, dengerin lagu-lagu yang kamu kasih. Pokoknya tentang kamu”. Aku tersipu, “memangnya enggak bosen?”. “enggak.. kalau aku bosen aku enggak bakal minta kamu buat datang kesini”. Aku menunduk, air mataku mulai menggenangi mata. Kadang aku benci sekali, bagaimana bisa dia dengan santainya berbicara suatu hal yang membuatku terasa sangat berarti. Disaat keluargaku saja jarang perduli, dia dengan tutur manisnya membuatku menjadi orang paling spesial di dunia.

“Anginnya mulai kencang lagi nih, pasirnya jadi keman-mana. Pulang aja yuk, sekalian kita cari makan siang”, akupun mengiyakan. Di jalan pulang dia bilang kalau nanti sore mobil bosnya ini harus dikembalikan karena mau dipakai. Akupun berkata tidak apa, jangan dipaksakan. Jadi akhirnya kami mencoba mencari makan dekat rumahnya saja, sekaligus memulangkan mobil. Di dekat rumahnya kami berhenti sebentar di warung bakso, dia bilang aku harus mencoba bakso disini. Dan ternyata rasanya.. ah sudahlah, jakarta memang juaranya. Dia hanya terkekeh melihat ekspresiku saat memakan suapan pertama.

Selesai makan, kami segera menuju rumah bosnya untuk mengembalikan mobil. Aku pun dikenalkan pada bosnya, sedikit berbincang ramah tamah. Wajah bosnya mengingatkanku pada seorang artis lawas yang aku lupa namanya. Kemudian kami pun pamit pulang ke rumah.

Di rumahnya, ternyata ada satu orang kawannya dan beberapa tamunya. Aku merasa tidak enak, dan dia melihat perasaanku itu. Lau dia menuruhku untuk menunggu di kamar saja, karena dia mau ke kantor sebentar. Sebenernya aku tidak mau ditinggal, tapi dia berkata jarak kantornya hanya 5 menit dari sini dan berjanji tidak sampai setengah jam dia akan kembali. Mau tidak mau aku menerima, dan kuputuskan menonton film yang ada di laptopnya.

Jam 6 sore dia kembali, diluar masih bisa kudengar suara tamu yang justru semakin ramai. Dia berkata kita kembali ke hotel sebelum gelap. Kali ini kami naik motor miliknya, berboncengan, sambil menikmati angin malam. Kami melewati jalanan yang kanan kirinya penuh tumbuhan bakau, gelap sekali, paling hanya sesekali lampu dari kendaraan yang saling berpapasan menerangi. Tak sengaja aku melihat ke atas langit, dan kulihat bintang seperti bertaburan indah sekali. “wahhh bagus banget bintangnya, keren!!”, teriakku. “di jakarta enggak akan bisa lihat yang begini, kalah sama lampu gedung dan jalanan”, sahutnya.

Sampai di hotel, dia langsung permisi untuk mandi. Tapi rasanya kalau aku tidak ingin mandi, paling hanya bersih-bersih. 10 menit dia keluar, lalu menyuruhku mandi dan kujawab, “malas”. Aku hanya cuci muka, menyabuni tangan dan kaki, lalu gosok gigi. Kulihat dia sedang asik menonton saat aku selesai dari kamar mandi. Aku duduk di sebelahnya lalu mencium pundaknya, “wangi banget sih”. Dan dia menciumku sekilas, di bibir. “kamu juga wangi”, katanya.

Malam itu kami habisnya di kamar saja menonton tv dan memesan makan malam dari restoran. Aku pun bertanya apakah dia masuk malam lagi, “libur”, jawabnya. Sekitar jam 10 aku merasa ngantuk, kutanya apakah dia akan pulang atau menginap. Dia kembali menanyakan padaku, mau ditemani atau tidak. Kujawab, “nginep aja, sayang kasur yang sebelah situ gak ditidurin”. Dia melirik kasur, dan mengangguk. Aku memang mendapat kamar dengan dua kasur single. Jadi rasanya agak aneh saat semalam aku tidur sendiri.

Kami sudah asik bergelung di balik selimut masing-masing, dan tanpa memakan waktu lama akupun sudah bisa mendengar dengkurnya yang semakin lama semakin keras. Dua kali aku memencet hidungnya agar terbangun, tapi tak lama dia kembali mendengkur. Aku salah strategi, harusnya aku tidur sebelum dia. Rasa kantuk yang tak tertahan tapi tidak bisa tidur karena suara yang berisik membuatku frustasi. Iri sekali melihatnya tidur pulas sedangkan aku memejamkan mata saja tidak bisa. Sempat aku masuk ke kamar mandi dan berpikir untuk tidur disana, tapi itu hanyalah ide yang buruk. Dan mau tak mau, aku terpaksa terjaga semalaman.

...... bersambung


Selasa, 27 Desember 2016

27 Desember (Part 1)

Beberapa tahun lalu di tanggal yang sama seperti hari ini, aku masih mengingatnya dengan baik dari semenjak aku turun dari pesawat. Tubuh tegap diantara puluhan orang yang sedang menunggu sang terkasih, begitu jugakah kau? Dengan mata samar, entah kenapa kali ini aku dapat melihatnya sangat jelas. Orang disekitarnya tampak hanya seperti semak semrawut. Ajaib.

Di bandara yang tidak mewah, bukan deretan pilar tinggi hanya berupa rumah sederhana yang dijadikan tempat menunggu turun penumpang, aku mendekati mu dengan perlahan. Kusentuh dada bidang yang sangat kurindukan ini, ingin sekali kumendekapnya dan membisikkan aku telah merindukanmu terlalu lama. Sayang hal itu urung kulakukan, di sebelahku ada seorang Ibu yang kebetulan sempat berkenalan di bandara keberangkatan. Aku sempat mengenalkan Ibu tersebut kepadanya., sebelum akhirnya berpamitan. Disaat seperti ini kadang aku mengutuk kelebihanku kenapa mudah sekali akrab dengan orang baru.

 Kulihat dia tersenyum, menatapku dalam dengan mata sayunya. Kuapit lengannya, dengan nada yang kupaksa sedikit riang aku berkata, “jadi kamu mau ajak aku kemana saja selama disini?”. Dia tidak menjawab, hanya menurukan apitan tanganku lalu kemudiam merangkulku. Aku terenyuh saat kulihat dia menyiapkan mobil di parkiran. Kutanya milik siapa, dia mejawab milik bosnya, “kasian kalau kamu naik motor, perjalanan kita akan jauh” begitu katanya. Di perjalanan kami tidak banyak bercerita, dia hanya berkata harus ke rumahnya dahulu, baru mencari penginapan untukku. Tangannya menggemgam erat jemariku, tidak bisa terlepas. Sampai akhirnya kubilang, “bahaya menyetir satu tangan”. Dia menurut, lalu melepaskan.

Hampir 20 menit perjalanan, hingga akhirnya aku sampai di depan rumahnya. Rumah yang lebih pantas dibilang kontrakan petak ini ditinggali oleh dirinya dan 2 orang temannya. “turun.. langsung masuk ke dalam saja, teman-temanku sudah berangkat kerja. Sebentar aku bawakan barang-barangmu”. Aku tidak menurutinya, tapi malah mengekorinya ke bagasi. Dia hanya tertawa dan mengusap kepalaku.

Rumahnya tidak terkunci ternyata, “percuma”katanya. Tidak ada ada barang berharga di dalamnya, Cuma pakaian kotor dan sampah berserakan ala pria bujangan. Dia menempati kamar di pintu kedua di rumah itu. Aku pun masuk dan takjub melihat isi di dalamnya. Kamarnya tidak terlalu banyak barang, tapi cukup tertata apik, khas dirinya yang senang kerapihan. Tapi yang membuatku kaget adalah bagaimana dia menata barang pemberianku secara rapih. “aku menyusunnya seolah aku sedang dibangungkan olehmu setiap pagi”, begitu katanya seperti sedang membaca pikiranku sambil memelukku dari belakang. Aku melepaskan diri untuk mencoba menatapnya, tapi dia justru menghujaniku dengan ciuman.

Di sela ciuman, dia mengatakan “dari jauh aku sudah melihatmu disana tadi, ingin sekali aku berlari dan mendekapmu. Tak tahunya ada orang lain di sebelahmu, kesal sekali rasanya”. Begitupun yang aku rasakan, asal kau tahu.. tapi itu tak kuucapkan.

Menjelang sore, kawan-kawanmu datang. Kau pun mengenalkannya padaku. Kulihat kau bersemangat sekali, jadi kupikir kau benar-benar menikmati kehidupanmu disini. Kau pun memiliki ide untuk makan malam bersama sebagai perayaan kedatanganku. Semua setuju, dan mobil bosmu kembali kau pinjam lagi. Malam itu, selesai makan kita sempat berkeliling daerahmu. Sangat berbeda dengan ibukota, terlalu sepi untuk kota yang sudah ramai katamu. Aku berpikir apa yang biasanya kau lakukan untuk membunuh sepi setiap harinya.

Pukul 9 malam saat itu, kamu mengatakan harus bergegas mencarikanku penginapan. Aku pun mengangguk, karena kutahu sejam lagi kau pun harus masuk kerja untuk shift malam. Aku meminta dirinya mengantarkan ke salah satu hotel yang sempat aku cari sebelum datang kesini. Dia menyanggupi, “tidak jauh dari sini itu, tapi cukup jauh dari rumahku”.

Sampai di hotel aku bergegas check in ditemani olehnya. Kawan-kawannya menunggu di parkiran. Untungnya tanpa booking, hotel ini masih memiliki sisa kamar. Ini merupakan hotel yang paling terkenal disini, mungkin juga paling besar. karena aku tidak melihat pesaing hotel lain sepanjang perjalanan kesini yang semegah hotel tersebut. Penghujung tahun membuat hotel ini full booking kata resepsionisnya. kami beranjak menuju kamar yang akan kuinapi sementara. Kau hanya mengantarkanku masuk ke kamar, “nanti aku telat, jadi tak bisa lama-lama. Besok pagi selesai kerja aku langsung kesini menjemputmu”. Begitu katanya, lalu pergi setelah mengecup keningku.


…… bersambung